Ayah Meninggal,Ibu Kawin Lagi.Arya Rela Hidupi 2 Orang Adik kandungnya

0
909

Bali, SuaraTrust.com – Namanya Nyoman Arya, usianya hanya 14 tahun. Namun kehidupan seorang Arya jauh lebih berat dibandingkan teman-teman sebayanya. Bagaimana tidak, meski masih duduk di kelas 2 SLTP, Arya harus menghidupi dua adiknya yang masih kecil tanpa perhatian kedua orangtuanya.

Hidup Arya memang sangat tragis. Bagaimana tidak, ayah kandungnya telah meninggal dunia saat Arya masih berusia 9 tahun. Bagaimana dengan ibunya? Arya sudah tak lagi tinggal dengan ibu kandungnya. Ibunya itu ternyata memilih untuk kawin lagi dan tinggal dengan suaminya sekitar dua bulan lalu.

Hal itupun diterima oleh Arya dengan tabah. Sehari-hari, Arya harus menghidupi sekaligus merawat dua adiknya yang masing-masing bernama Ketut Sana (12 tahun) dan Wayan Sudirta (4,5 tahun). Bahkan pada saat bersekolah, Arya pun harus rela ditemani dengan keberadaan Sudirta, adik bungsunya.

Saat aktivitas belajar mengajar di dalam kelas, Sudirta pun duduk di samping Arya. Pihak sekolah mengerti betul kondisi keluarga Arya. Walhasil, mereka memperbolehkan kehadiran Sudirta di dalam kelas. Pengorbanan Arya tak sampai di situ. Uang saku 2 ribu rupiah pun harus rela dibaginya dengan sang adik. Uang itu habis dia pakai untuk membeli kerupuk. “Nanti dimakan pakai saos,” ujar Arya sembari tersenyum.

Berbeda dengan keseharian anak-anak seusianya, Arya mempunyai kewajiban lebih untuk menghidupi kedua adiknya. Pagi hari sebelum berangkat sekolah, dia harus menyiapkan nasi dan lauk berupa mie instan untuk kedua adiknya. Hal itu juga kembali dilakukannya saat siang hari sepulang sekolah.

Ini belum ditambah dengan perjuangan seorang Arya dalam menempuh perjalanan dari rumah menuju sekolah. Setiap hari, Arya bersama dengan adik bungsunya harus melalui jalan sejauh 2 kilometer dengan berjalan kaki. Dengan kondisi jalanan yang berlumpur dan berdebu, Arya pun kerap memilih untuk berjalan dengan bertelanjang kaki sembari menggendong adiknya.

Untuk bisa menghidupi adik-adiknya, Arya juga melakukan pekerjaan memanjant pohon kelapa. Setiap hari, Arya bisa memanjat sebanyak 10 pohon kelapa. Upahnya juga tidak terlalu besar, per pohon dia memperoleh upah sebesar 5 ribu rupiah. Terkadang, Arya juga mendapatkan permintaan untuk memanjat 20 pohon kelapa dalam sehari.

Meski menjalani hidup yang berat dan tanpa kasih sayang kedua orangtua, Arya ternyata dikenal sebagai siswa yang berprestasi di sekolah. Arya yang tercatat sebagai salah satu warga di Dusun Darmaji, Desa Ban, Kecamatan Kubu di Kabupaten Karangasem, Bali ini selalu masuk dalam daftar peringkat 10 besar di kelasnya.

Namun baru-baru ini, penderitaan seorang Arya sudah mulai berkurang. Kakak kandungnya telah kembali dan memilih untuk tinggal bersama Arya. Dulunya, kakak kandung Arya bekerja sebagai pemetik cengkeh di Jembrana. Tak hanya itu, Arya juga mendapatkan berbagai bantuan, baik dari masyarakat atau pemerintah setempat. Termasuk di antaranya adalah bantuan beasiswa pendidikan.

Kalau Arya saja tabah dalam menjalani hidupnya yang keras dan penuh perjuangan, bagaimana dengan kita?

(Indo.w)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here