Investor Sangat Optimistis Pada Indonesia, Apa Alasannya?

0
177

Kuta, Suaratrust.com – Bank Indonesia (BI) menyatakan investor asing memandang Indonesia dengan sangat opimistis.

Meski ada beragam tantangan eksternal, namun mereka memandang secara fundamental, perekonomian Indonesia jauh lebih baik dibandingkan pada 2013 silam.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengungkapkan, diakui bahwa ada sedikit tekanan di pasar pasca pemilihan presiden di Amerika Serikat.

Hal ini terjadi khususnya berupa arus modal keluar dari Indonesia alias capital outflow.

“Tapi ini biasa, yang keluar sebagian besar (dana) jangka pendek. Itu hal yang normal dalam open capital account, tetapi dari sisi fundamental mereka melihat Indonesia jauh lebih baik dibandingkan tahun 2013,” kata Juda pada acara pelatihan wartawan ekonomi BI di Kuta, Bali, Sabtu (3/12/2016).

Juda menyatakan, pada era taper tantrum tahun 2013 silam, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia berada sekira 4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pada saat yang sama, inflasi Indonesia berada di atas 8 persen.

Namun demikian, kondisi saat ini diakui Juda lebih baik. Menurut dia, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlalu kuat, namun konsisten membaik.

Hal ini bisa terlihat di kuartal III dan IV 2016, di saat ada kontraksi fiskal, tapi (perekonomian) masih bisa tumbuh di atas 5 persen.

“Di tahun 2015, fiskal ekspansi, pertumbuhan kita di bawah 5 persen. Titik terndahnya memang 2015,” ungkap Juda.

Dibandingkan dengan Malaysia

Juda menyatakan, saat ini Indonesia seringkali dibandingkan dengan Malaysia. Pasalnya, kepemilikan non residen alias asing di pasar obligasi antara kedua negara hampir mirip, yakni sekira 36 persen.

Namun demikian, para investor memandang kondisi Indonesia jauh lebih baik ketimbang Malaysia.

Hal ini dapat dilihat dari cadangan devisa Indonesia yang kini mencapai 115 miliar dollar AS, sementara cadangan devisa Malaysia di bawah 100 miliar dollar AS.

“Pasar juga melihat kita tidak melakukan sesuatu yang berlawanan di pasar, seperti Bank Negara Malaysia dengan membatasi transaksi MTN (medium term notes) dan sebagainya. Itu tidak kami lakukan, jadi masih percaya dengan mekanisme pasar dan itu menunjukkan bahwa memang pasar lebih baik,” jelas Juda.

Hal lain yang disoroti adalah likuiditas valuta asing (valas) di pasar Indonesia juga lebih baik dibandingkan tahun 2013. Pada tahun ini, meskipun rupiah mengalami pelemahan dan dana asing keluar, namun dari domestik justru memasok valas.

“Bahkan lebih besar ketika di November dan Desember 2016 ketika asing melepas kepemilikannya di pasar domestik, justru domestik menambah valas, sehingga cadangan valas kita oversupply,” terang Juda. (KMP/ST)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here