Jhony Anak Almarhum Datuk Jamal Idris Keturunan Ahli Waris Datuk Laksamana IV Raja Dilaut Datuk Ali Akbar

0
1660

Dumai, SuaraTrust.com – Sejarah datuk laksemana raja dilaut IV yang terakhir adalah Datuk Ali Akbar yang bersemayam di bukit batu meninggal dunia pada tahun 1955.

Namun sampai saat ini cucu cicit datuk ali akbar ada berada dibengkalis, dumai, jakarta ,pekan baru, selat panjang , batam.

Dari Keterangan Cucu Datuk ali akbar icik dari dumai jalan bintan gg satria ” Datuk Ali Akbar mempunyai empat orang istri adapun nama nama istri datuk ali akbar datuk laksemana raja dilaut IV :

1. Mariyam mempunyai empat anak:

1. Datuk Idris,  2. Encik Zahara,  3. Rogayah,  4. Meninggal dunia

2. Mahotten mempunyai empat anak juga :

1. Fatimah,  2.Abduhrahman,  3. Zaitun,  4. Muctar

3. Maheran mempunyai dua anak :

1. Rapeah,  2. Zainun

4. Orang pelintung tidak mempunyai anak

Dari sekian nama anak datuk ali akbar semuanya sudah meninggal namun sebagian cucu cucu ali akbar yang masih hidup, dari anak istri pertama datuk ali akbar , almarhum datuk idris sebagian anak nya masih hidup, dan sekarang penerusnya datuk ali akbar adalah jhoni bin jamal idrid dibengkalis anak dari Datuk jamal idris, cicitnya datuk idris,” ujar icik

Lanjutnya ” saya adalah anak istri pertama datuk ali akbar mariyam dan anak yang kedua dari encik Zahara, kami ada lima beradik dan abang dan kakak saya sudah meninggal semua,” ungkapnya icik

Terusnya ” sekarang masih ada cucu cucunya dibengkalis dan jakarta anak dari isrti ketiga datuk ali akbar Maheran, termasuk cucunya  Edi jupran dijakarta, kalau cicit cicitnya masih lengkap semuanya baik di bengkalis, dumai, batam selat panjang, pekan baru, jakarta,” kata icik

” garis keturunan dari anak datuk ali akbar cukup jelas dan silsilah nya pun ada dan yang saya ceritakan ini adalah anak anak , cucu cuu, cicit cicit kandung ali akbar serta bisa dipertanggung jawabkan.” tegas icik

Dari ahli sejarah Bengkalis Syamsudin bin Ismail ”

Pada tahun 1908 M. Datuk Laksemana Ali Akbar ini berangkat ke Siak untuk menghadiri pemakaman dari Sultan Syarif Hasyim yang mangkat diluar Negeri. Setelah mangkat beliau digelar Marhum Baginda. Sedangkan waktu itu sebagai pengganti Sultan ini tidak berada di Siak Sri Indrapura. Beliau masih dalam sekolahnya di Batavia. Untuk sementara pemerintahan dipegang oleh Tengku Besar dan Datuk Lima Puluh sebagai Wali dari Tengku Putra Syarif Kasim.
Pada tahun lebih kurang 1910 M, beliau baru kembali ke Siak Sri Indrapura. Dan pada tahun 1912 M Tengku Putra Syarif Hasyim melangsungkan perkawinannya dengan Tengku Syarifah Latifah Putri dari Langkat. Barulah pada tahun 1915 M, beliau dinobatkan menjadi Sultan Siak Sri Indrapura dengan gelar Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin, dan Istri beliau ditabalkan menjadi Sultanah dengan gelar Assyidah Syarifah Latifah ( Tengku Agung ). Pelantikan dan penggelaran ini dilakukan oleh Datuk Laksemana Setia Diraja sebagai keturunan dari Datuk Panglima Tuagik.
Pada tahun 1925 M, beliau datang berkunjung ke Bukit batu. Waktu itu tempat semayam dari Datuk Laksemana Ali Akbar sudah berada di Bukti Batu Darat.
Karena pengaruh Belanda sudah meraja lela di daerah kita ini dan atas kelicikannya maka daerah Siak Sri Indrapura dibagi atas Distrik-Distrik termasuk Bukit Batu dan dengan kelicikannya itu pula gelar Laksemana dicabut dengan alasan tidak diadakan dua gelar Laksemana di Hindia Belanda ini, hanya satu yaitu di Batavia.
Pada tahun 1928 M, gelar Datuk Laksemana Sudah tidak ada lagi, dan dengan sendirinya Datuk Ali Akbar memohon agar beliau diberhentikan. Tetapi walaupun Datuk Ali Akbar ini berhenti menjadi Laksemana dalam hal pengangkatan penggelaran dari Sultan masih dilakukan oleh beliau. Ini terjadi pada masa penggelaran permaisuri dari Sultan Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin yaitu Syarifah Fadlun pengganti dari Assyidah Syarifah Latifah yang telah mangkat. Gelar yang diberikan kepada Syarifah Fadlun ini ialah Tengku Maha Ratu pada tahun  1930.
Pada masa beliaulah adanya penututan atas kurnia yang telah diberikan oleh Sultan Siak Sri Indrapura kepada Datuk Ali Akbar ( dalam Politik Kontrak ). Tuntutan ini dilakukan kepada Lanschafe Siak mengenai istilah kata-kata kurnia. Yaitu pemberian hadiah berupa hutan, tanah dan segala hasilnya. Sepanjang sejarah yang diketahui oleh penulis tuntutan tersebut sampai kepada pengadilan tinggi yang pada waktu itu berada di Medan ( Sumut ). Karena hal tersebut tidak dapat diputuskan oleh Landraat Bengkalis karena tuntutan tersebut belum dapat diselesaikan tiba-tiba perang Asia Timur meletus, persoalan itu terhenti saja sampai saat ini.
Datuk Ali Akbar menginggal dunia pada tahun 1955, dan dikebumikan di Samping Mesjid di Bukti Batu Darat.” Dari Ahli Sejarah Bengkalis Syamsudin Bin Ismail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here